About Brahmavihara Arama
Sayadaw U Rajinda PDF Print E-mail
Monday, 31 August 2009 06:12

Sayadaw U Rajinda, a Burmese Bhante has lived in Singapore for the last 12 years teaching meditation, Dhamma and the Abhidhamma. A practitioner of the Mahasi Method, his simple spoken English has benefited many with his personal insights. Bhante is the founder of the Satipatthana Meditation Centre (SMC) in Singapore and has been serving as its Religious Advisor ever since.

Last Updated on Wednesday, 01 September 2010 06:00
Read more...
 
Fungsi Brahmavihara Arama PDF Print E-mail
Written by I. B. Rahoela, S.Sos.   

Sesuai dengan latar belakang dan cita-cita pendirian Brahma Vihara sejak di desa Banjar hingga kini menjadi Brahmavihara Arama, maka fungsinya adalah sebagai berikut:

- Sebagai tempat tinggal para Bhikkhu
- Sebagai tempat sembahyang, praktek bakti umat Buddha
- Sebagai tempat pembabaran Dharma/dhamma dan meditasi
- Sebagai tempat menggali dan mengembangkan spiritualitas
- Sebagai sarana sosial kemasyarakatan.Dari fungsi-fungsi tersebut Brahmavihara Arama telah didesign sedemikian rupa sebagai visualisasi, tahapan-tahapan praktek yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan yaitu Nirwana.

Brahmavihara Arama ke Depan...

Last Updated on Wednesday, 01 September 2010 06:03
Read more...
 
Makna Brahmavihara PDF Print E-mail
Written by I. B. Rahoela, S.Sos.   
Thursday, 30 April 2009 00:41

Brahmavihara Arama terdiri dari tiga kata yaitu: Brahma, Vihara dan Arama. Brahma berarti agung, sangat luhur, terpuji, mulia. Vihara berarti cara hidup, dan Arama berarti tempat. Sering pula dijumpai bahwa kata Vihara diberi arti sama dengan Arama yaitu sebagai suatu tempat tinggal. Dari arti kata tersebut, maka makna Brahmavihara Arama adalah suatu tempat untuk melatih diri, menempa perilaku luhur/terpuji yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Pemberian nama Brahma Vihara oleh Almarhum Bhante Giri selaku Founding Father sangat sejalan dengan tujuan pendiriannya.
Perilaku luhur yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Ini dapat digali, dihayati, disadari dan dipraktekkan melalui jalan meditasi Vipassana Bhavana, karena Brahma Vihara sekaligus dapat dijadikan objek meditasi. Berkenaan dengan itulah Brahmavihara Arama diproklamasikan oleh Bhante Giri sebagai salah satu tempat meditasi. Kita menyadari dan meyakini bahwa manusia itu terdiri dari Rupa dan Nama yaitu tubuh/badan dan bhatin yang juga disebut sebagai Panca khanda. Panca khandha adalah lima kelompok kehidupan yang terdiri dari badan jasmani/tubuh (Rupa), perasaan, pencerapan, pikiran dan kesadaran (Nama) Panca khandha inilah yang disebut hidup dan kehidupan atau lazim disebut manusia.

Read more...
 
Sejarah Agama Buddha di Bali PDF Print E-mail
Written by I. B. Rahoela, S.Sos.   

Agama Buddha tidaklah asing bagi masyarakat Bali, karena di pulau ini pernah tercatat berkembangnya Agama Siwa-Buddha. Catatan ini membuktikan Agama Buddha pernah menjadi salah satu agama masyarakat Bali dan membuktikan pula bahwa Agama Buddha memiliki landasan filosofi moral cinta kasih yang universal sehingga mampu hidup berdampingan dan menyatu dengan agama-agama (sekte-sekte) lain secara harmonis.

Catatan sejarah menunjukkan Agama Buddha diperkirakan masuk ke pulau Dewata pada abad ke 7 - 8. Banyak bukti sejarah yang kini menjadi saksi keberadaannya, seperti stupika (stupa), candi, patung-patung Buddha yang ditemukan di wilayah Kabupaten Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng. Terakhir diketemukan stupa-stupa di desa Kalibukbuk (dekat daerah wisata Lovina, ±1 km dari BVA).

Last Updated on Sunday, 03 October 2010 11:28
Read more...
 
Brahma Vihara I PDF Print E-mail
Written by I. B. Rahoela, S.Sos.   
Monday, 11 August 2008 06:00

Pada bulan Mei 1957, di sebuah vihara kecil di Watugong, Semarang diselenggarakan perayaan Waisak, panitia mengundang umat Buddha, simpatisan dan kelompok-kelompok kebathinan di seluruh Indonesia,termasuk Bali. Dari Bali diwakili oleh Ida Bagus Giri. Melalui pertemuan yang sangat bersejarah itu, terjadilah pertukaran informasi yang sangat penting yang memicu bangkitnya kembali Buddhisme. Kemudian tahun 1958 Narada Mahathera didampingi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita berkunjung ke Bali dan melakukan dialog serta ceramah kepada kelompok kebathinan di beberapa kota, di antaranya Singaraja, Amlapura dan Denpasar.

Last Updated on Thursday, 30 April 2009 03:26
Read more...